"Ibarat harapan seorang penggali sumur, jika galiannya belum mengeluarkan air, maka dia akan terus berusaha memperdalam galian sampai akhirnya mengeluarkan air. Begitupun kita dalam beribadah dan berdo`a. Jika kita belum merasakan nikmat atau manisnya beribadah dan doa belum dikabulkan, teruslah berusaha jangan pernah berputus asa, mungkin masih terhalang oleh dosa-dosa yang kita perbuat. Berkaitan dengan putus asa, Alloh berfirman : "..Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf : 87) Untuk itu, optimislah dalam berdoa dan beribadah, jauhilah rasa putus asa. Semoga Alloh SWT menjadikan kita hambanya yang kuat. Amin Wassalamualaikum !
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Album Anggota Keluarga

Hidup Ini Pilihan

Senin, 25 Oktober 2010

Anggota Baru Kel. Besar Idris

Telah  bergabung  pada  Keluarga besar  IDRIS  Kartowirono  ,   anak / keponakan / adik /  cucu  kami :


Adhi Fais ,  Putra  dari  Indra Gunawan  ,  cucu  dari  Nenek  Emi 



Rara Rofiandra  ,  putri  dari  Pipit  ,  cucu  dari  kakek  Engkoy  (   Sukrisman )  

Welcome  aboard !

Rabu, 20 Oktober 2010

Dibalik Sebutir Nasi



Assalammua'laikum Warrahmatullahi Wabarrahkatuh,

"Sesungguhnya mubadzir ( pemborosan ) itu saudara-saudara syaithan".

(Isro' / 27)

 
Pembaca yang dicintai Allah SWT, terfikirkah oleh kita bahwa ketika
sebuah hidangan telah siap di meja dan siap untuk kita nikmati, ada
sekian banyak faktor pendahulu yang mesti menjadi renungan bagi kita
semua agar rasa syukur kita kepada Allah SWT makin terasah dan berkualitas.
Ada sekian banyak petani yang banting tulang peras keringat untuk  membajak, menanam dan mengairi sawah untuk sepiring nasi dan semangkuk sayur kita, ada para peternak yang dengan penuh kesabaran memelihara hewan ternaknya untuk sekerat lauk buat kita, ada sekian banyak kuli panggul, tukang masak, dan para buruh lainnya yang siap memberikan
pelayanan untuk kepuasan kita. Dan masih banyak faktor lain yang perlu kita cari dan kita renungkan.

Berikut ini kisah yang akan memicu kita menjadi hamba yang sangat  mensukuri nikmat Allah SWT.

Dikisahkan di sebuah kerajaan kecil,sang raja mempunyai seorang putra  yang sangat di manjakan. Merasa sebagai anak semata wayang sekaligus putra mahkta kerajaan,dia tumbuh menjadi remaja yang urakan,tidak tahu sopan santun dan tidak mau menghargai Orang lain.Ia bahkan suka melecehkan para pengasuhnya. Karena itu,pangeran kecil ini di benci dan
di hindari oleh para pengasuh maupun pegawai istana lainnya.

Walau di benci dan di jauhi,pangeran kecil ini masih punya satu-satunya  sahabat seusia yang setia kepadanya, yaitu si bocah laki-laki anak dari si juru masak istana. Si bocah tinggal di bangunan kecil jauh di belakang istana kerajaan. Karena dilarang menginjakkan kakinya ke dalam istana, maka sang pangeran kecillah yang biasanya datang bermain ke
rumah si bocah.

Suatu hari, pangeran kecil meminta bocah untuk menemaninya makan siang di ruang makan istana. Bukan menemani makan, tetapi berdiri manis menunggui sambil melihat sang pangeran makan. Sesaat sebelum makan, pangeran kecil terlihat menundukkan kepala sambil mulutnya berkomat-kamit seolah sedang berdoa. Sejenak kemudian, pangeran kecil
mulai melahap hidangan yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan yang enak, enak dan mahal dicicipi. 
Sang Pangeran bersantap sambil bertingkah seperti orang yang sedang kelaparan dan ingin menghabiskan semua makanan di atas meja. Kadang ia hanya mencuil dan menggigit
makanannya, lalu memuntahkan dan membuang sisanya di meja. Meja makan jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Sang pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri memandanginya.

Tapi bukannya merasa dihina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum  sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung dan marah melihat kelakuan sahabatnya. "Hai... apa yang kamu tertawakan? Beraninya kamu tertawa seperti itu dihadapanku ? Kamu iri melihat aku makan enak?" teriak pangeran kecil. 
" Tidak, tidak ada apa-apa...," jawab si bocah.

"Kalau tidak ada apa-apa, mengapa kamu tertawa ? Apanya yang lucu ?"
tanya sang pangeran sengit." Pangeran jangan cepat marah. 
" Hamba sungguh senang dan tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pangeran pun
ternyata juga berdoa sebelum makan. Apa yang pengeran ucapkan dalam doa
tadi?" tanya si bocah.

"Walaupun aku seorang pangeran, aku juga orang beragama. Di agamaku  sejak kecil diajarkan, supaya setiap hendak makan mengucapkan doa terimakasih kepada yang maha kuasa, atas pemberian makanan yang dihidangkan untukku," jelas sang pangeran dengan bangga.
Si bocah kecil tetap saja tersenyum-senyum. Tapi kali ini ia berani berkata demikian,"
menurut pendapat hamba yang mulia, rasa syukur dan terimakasih itu akan lebih berarti bila ditujukan juga kepada orang-orang yang telah menyediakan semua bahan makanan, dan memasak hingga tersaji hidangan di meja ini," kata si bocah."Lihatlah sisa makanan yang berceceran di piring dan meja itu. Perlu berapa orang untuk membuat itu semua?" 
"Apa maksud kata-katamu itu ? Aku kan seorang pangeran yang boleh berbuat apa saja sesuai kehendakku..." kilah sang pangeran .

Tanpa banyak mendebat si bocah tadi mengajak Sang Pangeran menuju ke  dapur istana untuk melihat para pekerja dapur yang begitu sibuk menyiapakan makanan serta membuat berbagai macam masakan. Saat mereka berkeliling, dari pintu belakan istana tampak seorang petani sedang membawa sekarung beras sebagai hantaran wajib ke istana. 
Pangeran kecil menyapa si petani bak seorang raja yang berkuasa,"hai...paman...terima
kasih atas persembahanmu, bagaimana panen padi kali ini?" tanya sang pangeran berlagak bijak.
"Panen kali ini buruk sekali,Tuan,"jawab si petani ketakutan."sudah tiga bulan kami bekerja keras, dari membajak, menanam, mengairi sawah sampai memupuk tanaman, tapi hasilnya sia-sia .
Sawah ladang dihancurkan tikus dan hama wereng. Jadi, ampuni kami karena
hanya mampu mempersembahkan sekarung beras ini, hanya itu yang kami
punya. Karena kami pun belum tahu bagaimana memberi makan anak istri
kami," ujarnya sambil menghela nafas panjang.

Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tesentak dan baru tersadar.  Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan.Sementara dirinya malah menyia-nyiakan dan membuang-buang makanan yang begitu beharga.
Sang pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu karena merasa malu pada diri sendiri. Sejak peristiwa itu, tingkah laku pengeran kecil berubah total. Ia menjadi anak yang sopan dan mau menghargai orang lain. Setiap kali makan, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri, "jangan sisakan sebutir nasipun di piringmu...!"

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat
kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih (QS 14:7)

Mulai saat ini jika masih ada tersisa hidangan di piring kita, ingatlah
masih ada jutaan saudara kita yang masih kekurangan gizi dan makan.

Jangan sia-siakan yang tersisa, Abadikan dengan Sedekah,

Wassalam,

Selasa, 19 Oktober 2010

Bubur MERAH PUTIH


Beberapa waktu yang lalu saya secara tidak sengaja mendengar obrolan segerombolan orang Indonesia  di  Bandara Changi , Singaoura. Inti nya, caci maki dan sumpah serapah kepada Ibu Pertiwi Indonesia. Dari pakaian nya, cara ngomongnya yang ¼ Inggris dan ¾ Bahasa Indonesia, kesimpulan saya mereka cukup terpelajar, mungkin pernah sekolah atau tinggal diluar negeri, atau paling tidak sering ke luar negeri. Karena dikit2 ada ucapan, “gak kaya disono ..” Saya pengen ngomong banyak sama mereka, tapi keburu keluar lift. Ini yang ingin saya ungkapkan:


Saya sendiri gak sering2 amat keluar negeri, dan asli orang kampung di Gunung Jawa , daerah Kuningan - Cirebon. Waktu lahir dan dikasih nama, orang tua saya membuat bubur merah-putih. Saya juga ingat, dulu Ayah saya Alm. Pak Ismail Kusnadi mengikatkan kain merah-putih di palang kayu penyangga atap rumah. Entah apa maksudnya, tapi ini barangkali yang membuat saya memiliki pandangan yang sungguh berbeda.


Indonesia sebagai negara memang sedang menghadapi banyak masalah. Tapi bukankah kita harusnya menjadi bagian dari solusi masalah yang sedang kita hadapi, dan bukan sekedar berkoar2 mencaci maki. Kalau merasa republik ini korup, mulailah dari diri kita untuk tidak korup, dan jangan segan menolak korupsi. Kalau merasa disini banyak pengangguran, ya bantulah ciptakan lapangan kerja, bukan mengemis kerjaan. Kalau merasa disini lalu-lintas semrawut, ya ayo mulai tertib dari diri kita sendiri. Kalau menurut kita pemerintahan dan lembaga perwakilan nya masih “geblek” ya pilihlah orang2 terbaik dalam pemilu. Atau, Anda sendiri merasa cukup hebat, ya majulah jadi politikus.


Saya masih memiliki mimpi bahwa suatu saat kita akan keluar dari kesulitan dan menang. Ini bangsa besar dan hebat. Setiap mendengar orang mencaci-maki republik ini, saya teringat leluhur  saya , Buyut di Kayumanis  yang usaha angkutannya dirampas oleh Jepang atau Alm.Kakek Idris  yang banyak menderita dijaman clash ke II dengan Belanda. Namun penderitaan mereka, dan jutaan lagi relawan yang telah berkorban nyawa dan harta demi berdiri nya negara republik Indonesia ini, seolah tidak ada artinya bagi para pecundang yang cuma bisa ternganga2 pencapaian orang lain dan lantas menghina bangsa sendiri. Anda bisa tebak jaman leluhur2 kita berjuang untuk merdeka dulu orang2 model begini pada kemana. Barangkali sekarangpun kalo kita dijajah lagi, pasti mereka akan duluan menyeberang jadi orang2nya penjajah. Lha wong enak, jadi budak nya negara maju yg dikagumi. Itulah mental inlander, kalo dengan orang asing dan yang serba asing, akan „munduk-munduk“ , kalo sama orang sendiri akan merendahkan.


Saya tidak anti-barat, timur, negara besar atau apapun. Saya bekerja sama juga dengan banyak perusahaan dari Jepang , US, UK, dan  Australia, dan semuanya baik2 saja। Saya paham sepenuhnya kita hidup dalam komunitas global। Tentu saja saya juga senang mengkonsumsi makanan, pakaian, buku, karya seni, musik dsb karya dari negara lain.
Saya juga kagum dengan kemajuan2 yang lebih dahulu dicapai negara lain. Namun kekaguman2 tadi tidak membuat saya merasa perlu untuk merendahkan diri sendiri. Saya juga tidak dalam posisi pro-pemerintah. Sejak jaman mahasiswa dulu hingga kini, saya juga senang dengan satire, kritikan, atau bahkan ledekan atas kerja pemerintahan negara kita yang memang sering tidak bagus. Tapi tidak dengan semangat merendahkan orang lain ataupun diri sendiri.

Saya juga sepakat banyak sekali yang harus dibenahi. Tapi kalau Anda cinta, Anda akan berusaha membenahi, bukan mencaci. Kalau cat rumah atau rumput di halaman Anda kalah dengan rumah tetangga, ya mari kita cat dan tanam rumput baru, bukan kagum2 melulu sama rumah orang lain. Atau Anda pikir pemerintah ataupun undang2 kita perlu diganti. Ganti lah melalu koridor demokrasi yang sudah kita sepakati.


Tapi kalau ternyata Anda bener2 sudah gak suka dengan negara sendiri, ya gak usah dipaksain. Saran saya juga jangan juga main cela. Nanti Anda yang makan hati. Kalau mau, ya sana “resign” saja sebagai warga negara Indonesia. Silakan apply jadi WN di tempat yang Anda kagumi, dan good luck. Siapa tau Anda jadi orang hebat disana. Atau kalau mau jalur cepat, minta dikawinin aja sama orang asing dan dibawa kesana. Itu satu pilihan hidup yang saya hormati juga. Setelah itu Anda akan tenang dan bebas merdeka tidak perlu memikirkan masalah2 Republik Indonesia lagi. Bagaimana kalau banyak yang mau pindah? Ya tidak apa2. Gak usah dihalangi, itu hak mereka. Anggaplah seleksi alam.


Kalau saya? Saya lebih suka disini. Dan bersama orang2 yang tersisa dan masih satu mimpi, kelak akan menjadikan negara ini besar dan hebat. Kalau saya belum bisa juga, akan saya wariskan semangat ini ke anak2 saya. Siapa tahu Anda kelak terkagum2 dengan negara kami (di)

Kamis, 14 Oktober 2010

Photo -photo Pernikahan Fidelia ( Lia )

Pernikahan  ananda  Fidelia Fitriani , anak ke-tiga , putri ke-2  Mamang / Uwak / Eyang  Kunung  dapat  kita  lihat  pada  web  ini. Fidelia ( Lia )   dipersunting  oleh   Chiko (Chicco A. Muttaqin).
Sekedar informasi,  Chiko adalah salah satu putra dari kel. besar Asysyafi'iah; ibunya Chiko adalah sepupunya Hj. Tutty Alawiyah & K.H. A.Hakim Syafi'i (kedua2nya adl anak2 alm. K.H. Abdullah Syafi'i).

 Kedua mempelai  berphoto   bersama  kedua orangtua tercinta

Salah satu  suasana  pada  acara  resepsi  pernikahan


Upacara pedang pora menjadi acara utama yang mengisi rangkaian resepsi pernikahan  Chiko dan Lia. Pedang Pora sendiri merupakan tradisi yang dilakukan terhadap perwira muda di lingkungan TNI dan Kepolisian saat melangsungkan pernikahan. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan perwira-perwira muda untuk melepas temannya menuju bahtera rumah tangga
Acara diawali dengan Hunus Pedang, dimana para perwira yang berjumlah 12 orang mengangkat pedang satu per satu secara berpasangan. Sementara kedua pengantin berjalan tegap dan hikmat. 
 Pelepasan  oleh  12  Perwira
Pengucapan Ijab Kabul  mempelai pria  dihadapan  orang tua mempelai putri.
( klik gambar untuk  memperbesar ) 
Kedua mempelai berpose bersama ibu Hj. Tuty Alawiyah
KH Abd. Hakim sdg memberikan wejangan akad nikah. Di foto itu juga terlihat  orangtua wanita mempelai wanita Ibu / eyang  Tatin, kakak mempelai Tanti dan  Faisal,serta mamang / uwak  eyang Engkoy & eyang Iyuk.      
( Klik photo  untuk  memperbesar  )
Berphoto bersama keluarga besar  H. Idris Kartowirono
Web Manager  mengucapkan Selamat  Untuk  Lia  dan  Chiko  semoga  menjadi  keluarga  Sakinah , Mawahdah  dan Warahmah 

M I R A S A N T I K A

Suatu ketika pada pertemuan halal bi halal , seorang anggota keluarga  , si Kabayan bertanya kepada  Ustadz  Legi, ” Kalau saya makan buah anggur , apakah melanggar ajaran agama kita ?”

” Tidak ” kata sang ustadz Legi.

” Dan bolehkah saya menambahkan sedikit air ” tanya si Kabayan.

” Tentu saj
a ” Jawab sang ustadz.

” Dan apakah salah jika saya memasukkan sedikit ragi ” tanya Kabayan kembali.

” Oh , tidak salah
” tukas  ustadz Legi.

” Baik ” , Kabayan melanjutkan pertanyaannya , minuman anggur ( wine ) itu hanya terdiri dari ketiga unsur tersebut. Jika demikian mengapa dianggap haram oleh agama kita ? ”

Ustadz Legi  berpikir sesaat , kemudian menjawab ” Jika saya melemparkan segenggam debu ke kepalamu , apakah engkau kesakitan ? ”

” Tidak ” Jawab Kabayan.

” Dan jika saya menambahkan sedikit air , akankah kepalamu terluka
?” Ustadz kembali bertanya.

” Saya kira tidak ! ” Jawab Kabayan.

” Nah , sekarang saya menyatukan debu dan air , membakarnya menjadi sebuah batu , dan kemudian memukulkan batu itu ke kepalamu , apa yang akan terjadi ? ” ucap  ustadz Legi sambil tersenyum.

Kabayan yang sejak awalnya memang mau " mengetest " sang Ustadz , terdiam dan cuma bisa bersungut – sungut.

So dear Friends , Akang , Teteh, Mister  sadayana . . . . .
Jauhilah Mirasantika , Minuman Keras dan Narkoba dan Psikotropika. 
 
lihat  artikel  di :

Nilai Sebuah Kegagalan

Bagi banyak orang kegagalan adalah sesuatu yg buruk. Apakah betul begitu ? Untuk pikiran yang dangkal, hal itu memang betul. Namun apabila kita memikirkannya lebih dalam lagi, kegagalan tidak selamanya merupakan bencana. 

Bisa jadi, dengan kegagalan Tuhan ( baca Allah SWT ) mengingatkan kita bahwa kapasitas kita belum cukup untuk menerima kesuksesan. Barangkali Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari, yang mana kalau kita sukses padahal kemampuan kita masih dangkal, kita akan terjatuh lebih dalam lagi. 

Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli investasi dari Amerika bahwa ‘orang bodoh dengan uang banyak adalah suatu fenomena yang sangat menarik’. Apakah yang akan terjadi bila orang bodoh tiba-tiba mendapatkan uang banyak? Jelas, dia akan menghabiskannya tanpa perhitungan hanya untuk barang-barang konsumtif dan kembali mengalami kesulitan keuangan karena kemungkinan besar barang-barang konsumtif tersebut akan dia beli dengan cara kredit. Apakah dia pantas disebut orang kaya? Jelas tidak, orang yang betul-betul kaya tahu betul apa yang akan dia perbuat dengan uangnya dan akan mengembangkannya lebih banyak lagi.

Poin utamanya adalah kesuksesan yang kita terima akan selalu sesuai dengan kapasitas diri kita. Jika kita menerima kesuksesan di luar kapasitas diri, malah kita akan jatuh lebih dalam dan gagal lebih parah. Maka dari itu, jangan terlalu mendramatisir kegagalan. 

Bisa jadi dengan kegagalan Tuhan menyelamatkan kita dari kegagalan yang lebih parah. Yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana caranya agar kita bisa berkembang secara pribadi untuk layak menjadi orang yang betul-betul sukses sehingga kesuksesan kita bisa bertahan lama dan semakin berkembang.

Semoga Beruntung!

lihat  dan  baca artikel  di :