"Ibarat harapan seorang penggali sumur, jika galiannya belum mengeluarkan air, maka dia akan terus berusaha memperdalam galian sampai akhirnya mengeluarkan air. Begitupun kita dalam beribadah dan berdo`a. Jika kita belum merasakan nikmat atau manisnya beribadah dan doa belum dikabulkan, teruslah berusaha jangan pernah berputus asa, mungkin masih terhalang oleh dosa-dosa yang kita perbuat. Berkaitan dengan putus asa, Alloh berfirman : "..Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf : 87) Untuk itu, optimislah dalam berdoa dan beribadah, jauhilah rasa putus asa. Semoga Alloh SWT menjadikan kita hambanya yang kuat. Amin Wassalamualaikum !
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Album Anggota Keluarga

Hidup Ini Pilihan

Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

Pelajaran dari Pergulatan Adam dan Iblis




Usai mencipatakan Adam, Allah memberikan  ilmu pengetahuan kepadanya. Ilmu tersebut akan menjadi bekal Adam dan keturunannya untuk menjalankan amanah Allah di muka bumi, yaitu membangun peradaban dunia. Adam dan anak keturunannya telak didapuk sebagai khalifah, wakil Allah di muka bumi.
 
Lantas Allah mengumpulkan malaikan dan Iblis. Mereka semua dites untuk menyebutkan berbagai macam benda yang ada disekeliling mereka. Namun semuanya angkat tangan. Baik malaikat dan iblis, sama-sama tidak mengetahui dan tidak punya ilmu pengetahuan atas benda-benda tersebut. Lantas Allah memerintahkan Adam untuk menyebutkan nama benda-benda satu persatu. Dengan fasih, Adam pun mampu memberikan jawaban yang jelas dan sangat memuaskan.
 
Karena mereka tidak tau, dan ternyata Adam lebih unggul, maka konsekwensinya, Allah memerintahkan mereka untuk bersujud kepada Adam, sebagai tanda hormat atas ilmu yang dimilikinya. Seluruh malaikat taat dengan perintah Allah. Mereka memberikan rasa hormatnya dengan melakukan sujud dihadapan Adam.
 
Hanya saja, hal ini tidak diikuti oleh iblis. Ia membangkang. Ia merasa bahwa bahan material yang digunakan Allah untuk menciptakan iblis, jauh lebih baik dibandingkan dengan bahan material yang digunakan Allah untuk menciptakan Adam. Iblis dicipta dari api yang menyala, sementara Adam dari tanah liat.
 
Akibat pembangkangan tersebut, Allah mengusir iblis dari surga. Iblis pun terpaksa harus keluar dari surga, tempat di mana segala keindahan dan kenikmatan dapat dirasakan. Namun sebelum iblis keluar, iblis minta dua syarat. Pertama, ia meminta agar umurnya diperpanjang hingga hari pembalasan. Kedua, ia diperkenankan untuk menggoda anak cucu Adam agar menjadi temannya kelak di dalam neraka.
 
Allah pun mengabulkan syarat yang diajukan iblis tersebut. Umur iblis diperpanjang hingga hari kiamat, dan ia juga diperkenankan untuk menggoda seluruh anak cucu Adam. Hanya saja, Allah menjanjikan bahwa manusia mukmin yang ikhlas tidak akan pernah dapat tergelincir dengan tipu daya iblis.
 
Iblis membuktikan janjinya. Ia segera menggoda Adam dan Hawa. Ia berkata kepada Adam bahwa Allah melarang mereka berdua untuk mendekati salah satu buah di surga, supaya mereka tidak kekal tinggal di dalamnya. Iblis pun tidak sungkan-sungkan bersumpah di depan Adam dan Hawa dengan menyatakan bahwa dirinya adalah pemberi nasehat yang benar.
 
Pada akhirnya, adam tergelincir juga. Ia memakan buah itu. Akhirnya ia diusir dari surge. Namun adam segera sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah perbuatan salah. Ia menyadarinya dan segera bertaubat kepada Allah. Karena taubatnya benar, maka Allah pun menerima taubatnya.
 
Dari kisah singkat tersebut, setidaknya ada beberapa pelajaran yang dapat kita dapatkan. Pertama, bahwa kemuliaan manusia, bukan dilihat dari materi yang ia miliki, namun dari kualitas ilmu. Dengan ilmu tersebut, manusia mampu mengemban tugasnya di muka bumi, yaitu membangun peradaban dunia. Karena ilmu ini pula, Allah memerintahkan malaikat dan iblis untuk sujud hormat kepada Adam.
 
Kedua, bahwa menilai sesuau dari sisi materi saja, akan menimbulkan kesalahan. Iblis menilai Adam dari bahan material yang digunakan untuk mencipta Adam. Iblis mengkiaskan antara material dalam penciptaan Adam dengan material yang digunakan untuk mencipta dirinya. Kenyataannya, Allah menyalahkan. Yang terpenting bukan materi, tapi ilmu pengetahuan. Artinya bahwa manusia berilmu, derajatnya di sisi Allah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan manusia yang mempunyai banyak harta. betapa Islam sangat menghormati ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu ini pula, peradaban mausia dapat dibangun.
 
Ketiga, bahwa manusia dalam menjalani roda kehidupan, hendaklah senantiasa berhati-hati. Amal perbuatannya harus dilandasi dengan niat ibadah kepada Allah. Ia juga harus selalu ikhlas. Dengan ikhlas ini, iblis tidak akan mampu menggelincirkan dia.
 
Keempat, bahwa hingga hari pembalasan, iblis akan berusaha menggoda manusia dengan berbagai cara. Ia tidak akan pernah bosan atau jera. Satu cara gagal, maka iblis akan mencari jalan lain. Oleh karenanya, kita patut waspada.
 
Kelima, seorang ulama, meski ia berilmu hendaknya tetap berhati-hati. Iblis tidak hanya akan menggoda orang bodoh, atau orang yang lemah iman. Namun iblis juga akan menggoda manusia beriman dan berilmu. Ini terbukti, bahwa Adam meski ia seorang nabi, namun tidak lepas dari godaan iblis. Pada akhirnya, Adam tergelincir dan ikut dikeluarkan dari surga.
 
Keenam, Allah adalah zat penerima taubat. Meski Adam sudah melakukan kesalahan, namun karena mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, maka Adam diterima taubatnya. Kesalahan yang pernah dilakukan manusia, akan dihapus dengan taubat yang sebenarnya. Menyesali perbuatan dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi, merupakan taubat yang sebenarnya.
 
Ketujuh, sombong adalah perbuatan yang sangat nista. Sombong adalah membanggakan diri sendiri di depan orang lain. Sombong bukan hanya berimplikasi merendahkan manusia, namun juga sama artinya merendahkan Tuhan dan menunjukkan dirinya mempunyai sifat lebih dibanding dengan yang lain. Karena bahayanya sikap sombong ini, maka iblis diusir dari surga. Demikian barangkali pelajaran sederhana yang dapat kita ambil dari kisah Adam dengan iblis.
 
Keluarga Besar H. IDRIS

Rabu, 06 November 2013

Scarcity Mindset

 


Dalam suatu danau yang airnya dalam hiduplah satu jenis burung yang memakan ikan dengan paruhnya. Burung-burung itu hidup berkelompok dan bergerombol. Hidup di danau memang keras hanya burung dengan paruh yang panjang dan cekatan saja yang dapat menangkap banyak ikan.
 
Sedangkan burung yang paruhnya pendek dan tidak cekatan hanya dapat sedikit ikan dan setiap hari masih merasa lapar karena tidak cukup makan.
Di lain pihak hidup pula kawanan burung yang tinggal di danau yang airnya dangkal. Mereka mencari makan dengan cakar mereka, makanan mereka ikan -ikan kecil yang sering bersemayam di dasar danau. Hanya burung dengan cakar yang panjang dan cekatan saja yang dapat mendapatkan makanan yang banyak.

Musim kemarau panjang mulai datang dan tak ayal juga melanda kedua danau tempat kawanan burung itu tinggal. Sebagian di danau pertama menjadi kering namun masih ada cukup makanan buat kawanan burung itu.
Namun tidak demikian di danau yang lain. Musim kemarau telah membuat danau itu kering .

Musim kering membuat kawanan burung lain yang berada di danau yang dangkal telah kering memaksa mencari tempat yang masih terdapat air dan ikan.
Mereka satu persatu pindah ke danau pertama tempat kawananan burung yang masih ada airnya. Kawanan burung yang baru datang tadi mulai mencari makan dengan cakarnya.

Namun karena danau di tempat yang baru dalam dan mencari ikan dengan cakar tidak begitu efektif, mereka harus belajar mencari makan dengan paruh mereka.
walaupun sangat sulit karena paruh mereka tidak didesain untuk itu, mereka tetap giat mencari makan disana.
Dengan susah payah dan belajar dengan coba salah ulangi lagi salah ulangi lagi terus dengan gigih mencari makan. Mereka mulai mencontoh burung yang sudah tinggal disana sebelumnya. Dan menemukan cara yang efektif menggunakan paruh mereka

Kawanan burung yang sebelumnya tinggal disana mulai merasa resah.
Kebanyakan yang resah adalah burung dengan paruh yang lebih pendek dan tidak begitu cekatan mencari makan. Hidup mereka terasa terancam dengan datangnya kawanan burung yang baru datang.
Walaupun sebenarnya makanan masih tersedia banyak di danau itu dan cukup untuk mereka semua.
“Wah kalo begini kemungkinan kita mendapat makanan semakin
kecil saja nih
” ujar salah satu burung yang tidak cekatan.
“Benar, lihat saja cara mereka mencari makan, sangat tidak berguna menggunakan
cakar dan paruh yang tidak begitu kuat bukan buat menangkap ikan di
perairan dalam seperti kita
” timpal burung yang lain. 

“Bagaimana menurutmu ?” ujar salah satu burung yang mempunyai paruh lebih pendek
dan kurang cekatan yang kepada burung sangat cekatan mencari makan.

Namun burung yang cekatan itu menghiraukan pertanyaan burung tadi.
Baginya dia tidak merasa takut akan kekurangan makanan. Makanan begitu
banyak tersedia di danau dan dia dapat tetap mencari makan dengan
paruhnya yang panjang dan cekatan.

Moral of Story :
Kita terkadang menyalahkan orang lain karena ketidakmampuan kita.
Bukan merefleksi diri dan memperbaiki kekurangan kita. Secara tidak
sadar kita takut tempat mencari makan kita diambil oleh orang lain
(mentalitas kekurangan). Padahal Allah swt tuhan semesta alam
memberikan rejeki kepada kita yang tidak terhingga.
Masihkah ada mentalitas kekurangan seperti itu dalam diri kita sebagai seorang
karyawan ?.

Rabu, 16 Oktober 2013

Bahagia Itu Pilihan

 Kumpul Halal Bi Halal  di  Cibubur

Seorang petani dan istrinya bergandeng tangan menyusuri sawah sesudah
seharian memacul di sawah mereka dalam lebatnya hujan. Tiba-tiba,
lewat sebuah motor di jalan raya di depan mereka. Berkatalah sang
suami pada istrinya, “Lihatlah bu, betapa bahagianya suami istri yang
naik motor itu. Meski mereka juga kehujanan tapi mereka bisa cepat
sampai rumah, tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk
sampai ke rumah.”


Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang
berboncengan di bawah hujan melihat sebuah mobil pick-up lewat di
depan mereka. Pengendara motor berkata kepada istrinya, “Lihat bu,
betapa bahagianya orang yang naik mobil itu. Mereka tak perlu
berhujan-hujan seperti kita.” 

Di dalam pick-up yang dikendarai sepasang suami istri juga terjadi perbincangan ketika sebuah mobil Mercy lewat.

 Ngariung di  Taman Bunga Cibubur

“Lihatlah bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil bagus itu. Pasti
nyaman dikendarai, tidak selalu mogok seperti mobil kita. 

” Pengendara mobil mewah itu seorang pria kaya dan ketika melihat suami istri di
bawah guyuran hujan, pria kaya itu dalam hatinya berkata, “Betapa
bahagianya mereka, begitu mesra berjalan di dalam hujan berdua
menikmati indahnya alam pedesaan sementara aku dan istriku tak pernah
punya waktu untuk berduaan karena masing masing sama-sama sibuk.”


Kebahagiaan tidak akan pernah kita miliki jika kita hanya melihat
kebahagiaan orang lain dan selalu membandingkan dengan hidup orang
lain. Kebahagiaan bukan semata dilihat dari harta, karena orang yang
berharta belum tentu bahagia.


 Masih  di  Cibubur
 
Bersyukurlah selalu atas hidupmu supaya kamu tahu di mana kebahagiaan
itu berada. Aku pernah berpikir bahwa setiap manusia pasti ingin
memiliki seorang kekasih dalam suka dan duka yang tidak pernah
terpisahkan. Sekarang aku memilih amal saleh sebagai kekasihku yang
akan menemaniku sampai ke dalam kuburku, kemudian amal sholehku
menemaniku menghadap Allah.

Aku pernah berpikir setiap manusia pastilah punya goresan masalah
dengan manusia lain, sehingga wajar jika manusia memiliki musuh
masing-masing. Kini aku memilih menjadikan setan sebagai musuh
utamaku, maka aku lebih memilih melepaskan kebencian, dendam rasa
sakit hati, dan permusuhanku dengan manusia lain.

Aku pernah selalu kagum dengan manusia cerdas yang berhasil dalam
karier atau kehidupan dunianya. Sekarang aku mengganti kriteria
kekagumanku ketika aku menyadari bahwa manusia hebat di mata Allah
adalah hamba yang bertaqwa. Manusia yang sanggup taat kepada aturan
Allah dalam menjalankan hidup dan kehidupannya.

Dulu aku akan marah dan merasa diriku dijatuhkan ketika orang lain
berlaku dzalim padaku. Menggunjingkanku dan menyakiti dengan kalimat -
kalimat sindiran yang sengaja menyakitiku. Sekarang aku memilih ada
transfer pahala dari mereka untukku jika aku mampu bersabar.

Dan aku memilih tidak lagi harus kuatir karena harga diri manusia
hanyalah akan jatuh di mata-Nya ketika dia rela menggadaikan dirinya
mengikuti hasutan setan.

Dulu aku yakin dengan hanya kekuatan Al-Quran berkali-kali maka jiwaku
tercerahkan. Kini aku memilih untuk mengerti dan memahami makna
artinya dengan menggunakan akalku, dengan mengaktifkan qolbuku dan
mengamalkannya dalam keseharianku maka pencerahan itu baru bisa aku
dapatkan. Ketika aku harus memilih, bantu aku selalu untuk memilih
yang benar di mata-Mu. 


Sent by Keluarga Besar H. IDRIS 

Rabu, 10 Juli 2013

Berlarilah Sebelum Gigit Jari

 
 Kumpul Keluarga Besar di Ciapus

Apa yang akan dilakukan oleh seorang Atlet lomba lari ketika wasit menembakkan pistol tanda perlombaan dimulai? ya, mereka akan berlangsung berlari secepat mungkin menuju garis finish.
 

Apa yang dilakukan team sepakbola atau team olahraga lain ketika wasit meniup tanda pertandingan dimulai? ya.. mereka akan langsung tancap gas berusaha mengungguli team lawannya.

Apa yang terjadi ketika mereka tidak langsung tancap gas dan berlari? tentunya mereka akan tertinggal jauh oleh peserta lainnya, dan ketika mereka sadar, mereka akan terpana (tidak percaya) karena telah jauh tertinggal oleh peserta lainnya.

Dalam kehidupan ini pun kita berlomba. Allah memberikan peluang yang sama pada setiap hambanya, untuk berlari secepat mungkin menuju garis finish mereka. Allah memberikan peluang pada kita untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik (fastabikhul khoirot)

Namun, fenomena yang banyak kita temui adalah justru banyak orang yang bersantai ketika perlombaan telah dimulai. mereka tidak sadar kalau mereka telah tertinggal jauh dari rekan-rekan seusianya yang terus berusaha keras berlari menuju impiannya. dan ketika mereka sadar mereka akan terpana dan berkata dalam hati... "kok yang lain sudah mapan, gw masih begini aja", "kok yang lain sudah nyaman, gw masih kerja keras".

BERLARILAH SEBELUM TERLAMBAT!!!
Kerjakanlah sesuatu yang sederhana dari hal yang bisa anda lakukan saat ini, mulailah dari hal-hal yang kecil dan jangan pernah meremehkan langkah kecil tersebut. 


Bukankah ribuan kilometer akan bisa ditempuh kalau kita memulai langkah pertama? Seseorang pun tidak bisa langsung naik ke lantai kelima, tetapi dia harus menaiki dan melewati satu demi satu anak tangga barulah sampai pada tingkat lima.

Perjalanan yang jauh hanya akan tercapai kalau langkah pertama diambil.
Bahkan seekor siput pun dapat menempuh jarak yang sangat jauh

Rahasia besar yang harus diketahui tentang orang-orang besar yang berhasil mewujudkan mimpinya adalah mereka tidak langsung berhasil mewujudkan mimpi besarnya itu, tetapi mereka dengan sabar melakukan aktivitas yang pada saat itu bisa mereka lakukan kendatipun itu adalah hal yang kecil. Dan mereka mnenyadari bahwa setiap aktivitas yang mereka lakukan adalah bagian dari langkahnya untuk mewujudkan impian-impian besarnya tersebut.

BERLARILAH SEBELUM MENYESAL!!!
Banyak mahasiswa yang ketika kuliah mereka santai, tapi menyesal saaat teman-teman yang lainnya lulus dan dia belum mengerjakan apa-apa.
 

 Banyak pelajar yang santai dan menyesal ketika di akhir tahun ajaran harus menerima kenyataan tidak lulus.

Banyak orang yang ketika masih mudanya lebih banyak santai dan bermain menyesal karena ketika sudah menjelang tua mereka belum mendapatkan apa-apa.

BERLARILAH SEBELUM GIGIT JARI!!!

Terima Kasih Pak Tentara


 
Eyang Soenardi ( Ishak ) dan eyang Nasir ( Acing )

Seorang NAPI Politik yang cerdas di Negara Kesatuan Republik Mimpi mendapat surat dari ayahnya yang petani.

Bunyi suratnya, "Nak, bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung, sementara kamu sedang di penjara, siapa yang mau bantu bapak mencangkul ladang jagung itu?"

Si Napi membalas surat ayahnya, "Demi Tuhan, bapak jangan mencangkul ladang kita. Saya menanam emas batangan disana!"

Rupanya surat itu disensor pihak rumah tahanan, maka keesokan harinya setelah si bapak terima surat, datang satu peleton tentara ke desa ayah si Napi. Tanpa banyak bicara mereka segera ke ladang jagung dan sibuk seharian mencangkul tanah di kebun tersebut.

Setelah mereka pergi, ayah sang napi mengirim surat lagi. "Nak, setelah bapak terima suratmu, datang satu peleton tentara yang langsung mencangkul ladang kita. Apa yang harus bapak lakukan sekarang?"
Si anak kembali membalas surat tersebut, "Bapak sekarang bisa mulai tanam jagung, dan jangan lupa ucapkan terimakasih sama para tentara itu."

Pihak Lapas yang menyensor surat terakhir si Napi, hanya bengong dengan mulut melompong....



Rabu, 03 Juli 2013

Satu Kalimat, Dua Persepsi


Dimas Sekarmaji , putra eyang Soenardi ( Ishak )

"The eye of a human being is a microscope, which makes the world seem bigger than it really is."-- Kahlil Gibran

ADA seorang saudagar kaya raya. Satu hari, sang saudagar jatuh sakit. Umurnya memang sudah tak lagi muda. Hampir mendekati uzur. Ia sudah merasa waktunya di dunia ini sudah habis. Sebelum wafat, ia meninggalkan wasiat kepada kedua anaknya. 

Wasiat pertama, bila ada yang berutang, janganlah engkau tagih. Untuk wasiat kedua, bila keluar rumah, janganlah sampai engkau terkena sinar matahari.

Beberapa hari kemudian, sang saudagar wafat. Ia pun dikebumikan di pemakaman dekat rumah. Setelah sang saudagar wafat, kehidupan berjalan normal kembali seperti biasa. Semua pesan yang diamanahkan sang saudagar kepada anaknya, benar-benar dijalankan oleh kedua anaknya tersebut.

Setelah beberapa tahun kemudian, kedua anak tersebut sibuk dengan masing-masing urusannya. Mereka mencari nafkah dan tinggal di dua kota yang berbeda. Akhirnya, setelah lima tahun tak pernah berjumpa, mereka bertemu kembali di kediaman mereka dimana mereka pernah dibesarkan dahulu.

Ada perbedaan mendasar dari kedua anak tersebut. Anak pertama, ternyata hidupnya begitu miskin. Sedangkan anak kedua, terlihat sangat makmur. Kekayaan melimpah ruah.

Sang Ibu yang telah renta pun bertanya kepada kedua anaknya. Ketika ditanya mengapa bisa terjadi perbedaan yang begitu mencolok, keduanya menjawab karena melaksanakan amanah yang ayah wasiatkan kepada mereka.

Sang anak pertama menjelaskan, bahwa ia menjalankan wasiat yang diberikan ayahnya, 'Jangan menagih utang kepada orang yang berutang kepadaku, maka setiap orang yang berutang, tak pernah aku menagihnya, makanya aku bankrut.' 

Untuk wasiat kedua, anak pertama menjelaskan, 'Ayah berpesan supaya kalau aku pergi atau pulang ke tempat bekerja, aku tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya aku harus naik angkutan, padahal sebenarnya bisa saja berjalan kaki untuk menghemat. Tetapi dengan naik angkutan, pengeluaranku bertambah banyak.'

Anak kedua ditanyakan hal yang sama. Mengapa ia bisa begitu kaya raya dan hidupnya makmur. Katanya, 'Ayah berpesan, aku tak boleh menagih orang yang berutang padaku, makanya aku tak pernah lagi memberi utang kepada para pelanggan.' 

Sedangkan untuk wasiat kedua, anak kedua menjelaskan, 'Ayah berpesan, jangan terkena sinar matahari jika keluar rumah, maka aku berangkat lebih pagi sebelum matahari terbit, dan aku akan pulang ke rumah setelah matahari terbenam. Jadi aku dapat membuka tokoku lebih cepat dari toko yang lain dan lebih lama menutup tokoku sampai matahari telah terbenam.'

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana sebuah kalimat ditanggapi dengan persepsi yang berbeda. Jika kita memaknainya dengan sudut pandang positif, maka segala hambatan dapat diatasi dengan baik. Tetapi bila kita bisa memandangnya dari sudut pandang yang negatif, maka hambatan yang dihadapi terasa begitu sukar untuk dilewati.
 

Jumat, 21 Juni 2013

Cahaya Kehidupan


                                                           Eyang Taty &  grandaughter

Alkisah, Putri diterima di perguruan tinggi dan harus pindah ke luar kota. Orangtuanya membelikan sebuah rumah mungil yang sudah direnovasi , selain untuk investasi, juga untuk membantu kelancaran putri semata wayangnya yang sekarang mulai duduk di bangku kuliah. 
Sebagai anak tunggal, semua kebutuhan Putri disediakan oleh orangtuanya, bahkan tanpa diminta sekalipun.

Setelah pindah beberapa hari, Putri sadar, di sebelah tempat tinggalnya ada rumah yang tampak sangat sederhana, dengan tiga orang penghuni di dalamnya , seorang ibu muda dengan dua anaknya.

Suatu malam, terjadi hal yang tidak diinginkan. 
Lampu mati! 
Putri segera meraih telepon genggamnya dan menyalakan layar untuk menerangi sekitarnya. "Huuh…..apa-apaan nih! Mana mau ngerjain tugas, pakai mati lampu segala!" keluh Putri dengan perasaan jengkel.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu berulang-ulang diikuti teriakan nyaring, "Kakaaak... Kakaaak!" 
Putri membalas berteriak dari dalam, "Hai… Siapaaaa?"
"Saya. Kak. Anak sebelah rumah. Kakak punya lilin..?"

Sambil berjalan menghampiri pintu, Putri sempat berpikir, "Anak sebelah tuh, jangan-jangan mau minta-minta. Nanti jadi kebiasaan minta deh." 
 Jadi segera dijawab, "Tidak punyaaa!"
"Tolong buka pintunya Kak," kata anak itu mengulang, bertepatan ketika si Putri telah di ambang pintu, dan membukanya.

"Kak, saya dan mama khawatir.. Di sini kan sering mati lampu. Kakak orang baru, pasti belum tersedia lilin. Ini Kak, mama menyuruh saya untuk membawakan lilin untuk kakak," seraya tangan mungilnya mengangsurkan 2 batang lilin ke arah Putri.

Putri sejenak terpana, dia segera jongkok dan memeluk tubuh mungil di hadapannya sambil mengeluarkan suara tercekat. "Terima kasih, adik kecil. Tolong sampaikan ke mamamu ya, terima kasih.."

Putri malu pada dirinya sendiri yang telah berpikiran jelek dan tidak menyangka bahwa tetangganya yang tampak begitu sederhana justru menunjukkan kebesaran jiwa dengan mengkhawatirkan dirinya dan bahkan memberi lilin, seolah cahaya kehidupan. 
Bukan seperti pemikirannya, bahwa si miskin yang datang mengetuk pintu pasti bertujuan untuk mengganggu dan meminta tolong atau menyusahkan kita saja.

Perasaan tidak nyaman dan prasangka buruk sering kali menguasai saat teman atau kerabat yang tidak mampu mengetuk pintu rumah kita atau menghubungi kita. Jangan-jangan.. cuma mau minta tolong. Sesungguhnya, jika ada teman atau kerabat yang sedang kesusahan, bukankah kita sedang diberi kesempatan untuk berbuat baik? Seperti hukum alam mengajarkan filosofi "tabur-tuai". Tanpa menabur kebaikan, bagaimana mungkin kita berharap bisa menuai kebaikan di masa depan? Mari kita melatih dan membiasakan jika ada kesempatan membantu orang lain. Tentu merupakan suatu kebahagiaan jika ada kesempatan untuk meringankan beban orang lain.

Senin, 17 Juni 2013

Kakek Yang Jujur

  
Saat  kumpul di  Ciapus

Suatu hari, ketika seorang kakek, penebang kayu, sedang menebang pohon, ia kehilangan satu2nya kapak yang ia punya karena terjatuh ke sungai.
Dia menangis & berdoa, hingga muncul malaikat dan bertanya kepadanya:
“Mengapa engkau menangis?”
Sambil terisak si kakek bercerita tentang satu2nya kapak alat pencari nafkahnya telah terjatuh ke dalam sungai.

Malaikat menghilang seketika & muncul kembali dengan membawa Kapak Emas sambil bertanya: “Apakah Ini Kapakmu?”
“Bukan,” jawab kakek Itu.
Lalu malaikat menghilang lagi & muncul kembali dengan membawa Kapak Perak sambil bertanya lagi: “Apakah ini kapakmu?”
“Bukan,” sahut kakek itu sambil menggelengkan kepala.

Setelah menghilang sekejap, malaikat itu kembali lagi dengan membawa kapak yang jelek dengan gagang kayu & mata besi. “Apakah ini kapakmu?”,
“Ya, benar ini kapak saya."
“Kamu adalah orang jujur, oleh karenanya aku berikan ketiga kapak ini untukmu Sebagai imbalan atas kejujuranmu!”
Kakek itu pulang ke rumah dengan rasa syukur & sukacita.

Beberapa hari kemudian, ketika menyeberangi sungai, isterinya terjatuh & hanyut ke dalam sungai.
Si kakek menangis dengan sedih & berdoa.
Muncullah pula malaikat yang memberinya 3 Kapak tempo hari.

“Mengapa engkau menangis?”,
“Isteriku satu2nya yang amat kucintai terjatuh & hanyut ke dalam sungai.”.

Lalu malikat menghilang & muncul kembali dengan membawa Ayu Azhari sambil bertanya “Apakah ini isterimu?”,
“Ya.” Jawab sang  kakek

Malaikat amat murka & berkata “Kamu bohong! Kemana perginya kejujuranmu?”

Dengan ketakutan sambil gemetaran kakek itu berkata,

“Jika aku tadi menjawab bukan, engkau akan kembali lagi dengan membawa Vitalia & jika kujawab lagi bukan, engkau akan kembali dengan membawa isteriku yang sebenarnya & saya pasti akan menjawab benar, lalu engkau akan memberikan ketiganya untuk menjadi isteriku.

Saya ini orang tua renta... Tidak mungkin saya bisa seperti Ahmad Fathonah...

Please dehhh Malaikat.
 

Kamis, 13 Juni 2013

J E J A K



 Saat kumpul di Ciapus

Banyak orang masuk ke dalam kehidupan kita, satu demi satu datang dan pergi silih berganti. Ada yang tinggal untuk sementara waktu dan meninggalkan jejak-jejak di dalam hati kita dan tak sedikit yang membuat diri kita berubah.
 
Alkisah seorang tukang lentera di sebuah desa kecil, setiap petang lelaki tua ini berkeliling membawa sebuah tongkat obor penyulut lentera dan memanggul sebuah tangga kecil. Ia berjalan keliling desa menuju ke tiang lentera dan menyandarkan tangganya pada tiang lentera, naik dan menyulut sumbu dalam kotak kaca lentera itu hingga menyala lalu turun, kemudian ia panggul tangganya lagi dan berjalan menuju tiang lentera berikutnya.


Begitu seterusnya dari satu tiang ke tiang berikutnya, makin jauh lelaki tua itu berjalan dan makin jauh dari pandangan kita hingga akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam. Namun demikian, bagi siapapun yang melihatnya akan selalu tahu kemana arah perginya pak tua itu dari lentera-lentera yang dinyalakannya.


Penghargaan tertinggi adalah menjalani kehidupan sedemikian rupa sehingga pantas mendapatkan ucapan: "Saya selalu tahu kemana arah perginya dari jejak-jejak yang ditinggalkannya."


Seperti halnya perjalanan si lelaki tua dari satu lentera ke lentera berikutnya, kemanapun kita pergi akan meninggalkan jejak. Tujuan yang jelas dan besarnya rasa tanggung jawab kita adalah jejak-jejak yang ingin diikuti oleh putera puteri kita dan dalam prosesnya akan membuat orang tua kita bangga akan jejak yang pernah mereka tinggalkan bagi kita.


Tinggalkanlah jejak yang bermakna, maka bukan saja kehidupan anda yang akan menjadi lebih baik tapi juga kehidupan mereka yang mengikutinya.
 

Kamis, 30 Mei 2013

Moment Of Truth

 
 Lidya & Dinda @ KFC resto - China Town - Singapore
Di sebuah resto di San Francisco, ada seorang konsultan yang heran melihat keramaian Chinese Restaurant Lie Po. Dia mencoba makan disana pada sebuah siang yang ramai sekali.

Pelayan dengan ramah melayaninya dengan bahasa Inggris yang masih saja tidak fasih, sang konsultan memesan “Orange Chicken with rice”, dan meminta minuman “Coke Zero”.
Pelayan berkata: “Maaf, kami kontrak dengan Pepsi, dan tidak menjual produk Coca Cola. Apakah dapat kami tawarkan Diet Pepsi?” Sang konsultan menolak, dan meminta air putih saja.
...
Ketika dia sedang makan, tiba2 ada seorang berpakaian rapi membawa “Coke Zero” dan es batu, dan menaruh didepan pelanggan itu dan berkata sambil tersenyum “Tadi anda menginginkan Coke Zero kan? ” Lalu berlalu.

Sang konsultan meminum dengan puas dan memanggil pelayan yang tadi melayaninya. Pelayan datang dan tersenyum melihat Coke Zero ada disana.

Pelayan berkata: “ Nah sudah ada minuman kesukaan Bapak kan?”
Pelanggan: “ Tadi katanya tidak ada? Ini kok ada?”
Pelayan: “ Benar, baru saja kami belikan di pasar swalayan seberang.”
“Restoran lagi ramai, siapa yang membelikan?”
“Manager kami, dia tidak terlalu sibuk dibelakang.”
“Lho, katanya kontrak dengan Pepsi?”
“Ya, kalau menjual Coca-Cola tidak boleh, kalau memberi gratis kepada pelanggan, saya kira boleh.” Jawabnya sambil tersenyum.

* Memberi pelayanan yang baik adalah hal yang umum, dan dilakukan semua perusahaan, memberikan hal yang lebih, yang tidak terduga bisa, menjadi kunci sukses dijaman ini. Ciptakan “Moment of Truth”, yang memberikan impresi luar biasa, yang akan selalu diingat oleh pelanggan anda, sehingga dia akan setia pada perusahaan anda, dan merekomendasikan produk anda kepada orang lain.
Moment of Truth tidak hanya berlaku pada pelangan penjualan saja. Hal yang sama berlalu untuk sebuah kepemimpinan, Teamwork, ataupun dalam kehidupan sosial kita. Melakukan hal lebih yang menyentuh adalah kesempatan kita untuk diingat, dicinta, dihormati, dan diikuti oleh orang lain.
Salam sukses untuk anda.

Kamis, 16 Mei 2013

Garam Kehidupan

 Eyang / Wak  Nasir ( Acing )   bersama   Wak / Oom Iman

Pada suatu hari datang seorang anak muda yang tengah dirundung banyak masalah pada seorang kakek bijak. Langkahnya gontai dan air muka yang muram.

Kala menceritakan semua masalahnya, pak tua bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Setelah itu ia mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam tersebut kegelas air dan diaduknya perlahan. Pak tua meminta anak muda meminumnya : “Coba minum air ini dan katakan bagaimana rasanya…”

“Asin. Asin sekali!”, jawab anak muda itu sambil memuntahkan air asin dari gelas itu.

Pak tua hanya tersenyum. Ia lalu mengajak anak muda itu berjalan ke tepi telaga di hutan dekat tempat tinggalnya. Sesampainya di telaga, pak tua kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. 

Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang untuk mengaduk-aduk air telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat anak muda itu selesai mereguk air itu, pak tua bertanya kembali : “Sekarang bagaimana rasanya?”.

“Segar
”, sahut anak muda itu. “Apakah kamu merasakan garam dalam air telaga itu?” tanya pak tua lagi. Anak muda ini menjawab : “Tidak”.

Dengan bijak orang tua berkata : 

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang banyaknya. Jumlah dan rasa asin itu adalah sama antara yang ada dalam gelas dan yang ditabur dalam telaga”.
“Kepahitan itu akan didasarkan dari tempat dimana kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semua itu. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.
 

Pak tua itu kembali memberikan nasehatnya.  
“Hatimu adalah wadahmu. Perasaanmu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,  buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.



Selasa, 23 April 2013

Burung Kecil yang Memadamkan Api



 DI KALANGAN suku Aztec Meksiko mereka memiliki cerita rakyat bahwa dahulu kala terjadi kebakaran besar di hutan mereka. Semua makhluk yang ada di hutan itu lari menyelamatkan diri, kecuali sekelompok burung-burung kecil yang berterbangan mengambil air dalam paruhnya untuk memadamkan api yang sangat besar. Melihat apa yang dilakukan burung-burung kecil ini, burung-burung yang lebih besar mendatanginya sambil bertanya: “Apa yang sedang kalian lakukan?”
Burung-burung kecil tersebut menjawab; ”Kami sedang berusaha memadamkan kebakaran hutan ini”. 

Dengan geregetan burung-burung besar tersebut berteriak:  
“Kamu tidak akan bisa melakukannya! Kami saja yang besar juga tidak bisa melakukannya, apalagi kamu! Ayo kita menyelamatkan diri kita saja.”
 

Burung-burung besar tersebut kemudian terbang sekuat tenaga meninggalkan hutan yang lagi terbakar. Demikian pula dengan seluruh makhluk yang ada di hutan itu, mereka berlarian menjauh dari hutan untuk menyelamatkan diri. Tetapi tidak sekelompok burung-burung kecil tadi, mereka tetap mengambil air dengan paruhnya yang sangat kecil untuk memadamkan api yang sangat besar membakar hutan mereka.
 

Atas kehendak Yang Maha Kuasa, kebakaran hutan itu akhirnya padam – tetapi suku Aztec Mexico – yang tidak mengenal Tuhannya dengan benar, mereka berkepercayaan bahwa burung-burung kecil inilah yang memadamkan api.

Dalam Islam, orang beriman memiliki kewajiban untuk berbuat sesuatu manakala melihat kemungkaran. Yang terbaik tentu berbuat dengan (tangan) atau kekuasaannya, kalau tidak bisa baru dengan ucapannya (jaman sekarang bisa berarti tulisan), dan kalau inipun tidak bisa setidaknya mengubah (menolak) dalam hatinya – dan ini selemah-lemah iman.


“Barangsiapa di antara kamu
 yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia 
mengubah dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka
 ubahlah dengan lisannya; dan jika tidak mampu,
(ubahlah) dengan hatinya. Dan itulah s
elemah-lemah
iman.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ashabus Sunan). 

Kemungkaran di jaman ini banyak sekali bentuknya, bisa berupa kebijakan publik yang menyengsarakan rakyat. Bisa system ekonomi yang membuat si kaya tambah kaya dan memperbanyak jumlah penduduk miskin. Bisa berupa penyia-nyiaan lahan produktif hanya untuk kepentingan spekulasi, penguasaan berlebihan sumber daya alam oleh sekelompok orang tertentu , bisa ajaran  menyimpang  dari  Eyang tertentu  dlsb. dlsb.
 

Intinya kita harus berbuat sesuatu bila melihat kemungkaran, bila selemah-lemah iman itu mengubah atau menolak dalam hati, berarti kalau hati kita tidak menolaknya – jangan-jangan memang tidak ada atau belum ada iman di hati kita?
 

Bisa jadi yang kita lakukan ini adalah hal yang sangat kecil, seperti air dalam paruh burung-burung kecil di atas. Akal manusia-pun tidak sampai bisa memahami air yang sangat kecil tersebut untuk memadamkan kebakaran hutan.
 

Tetapi di hadapan Yang Maha Kuasa, tidak ada yang terlalu kecil untuk merubah sesuatu yang sangat besar. Anak-anak kecil Palestina-pun membuktikannya dengan ketapel-ketapel dan lemparan kerikil mereka, mereka mampu menghadang tank-tank yang canggih penjajah Zionis Israel.

 Maka sekarang waktunya kita berbuat untuk melawan kemungkaran itu, sekecil apapun yang bisa kita lakukan…mudah-mudahan dengan yang kecil itu kita bisa menghadirkan pertolonganNya Yang Maha Kuasa. Amin.

اللّÙ‡َ Ù‚َتَÙ„َÙ‡ُÙ…ْ ÙˆَÙ…َا رَÙ…َÙŠْتَ Ø¥ِذْ رَÙ…َÙŠْتَ

“…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar….” (QS:  al-Anfaal [8]: 17)
 

Kamis, 18 April 2013

Kehidupan



Hidup selalu merupakan pertarungan, & tiada pertarungan tanpa kekuatan...
Bertarung tanpa kekuatan, pasti mengakibatkan kekalahan.
Tapi lebih kalah lagi yang keluar dari pertarungan karena tak memiliki kekuatan...

Hidup selalu merupakan cinta, & tiada cinta tanpa kerinduan...

Mencintai tanpa merindukan adalah hambar.
Tapi lebih hambar lagi jika tidak punya kerinduan karena tak memiliki rasa cinta..


Hidup selalu merupakan harapan. & Tidak ada harapan tanpa usaha...
Berharap tanpa usaha adalah kesia-siaan.
Tapi lebih sia-sia lagi orang yang tidak mau berusaha karena tidak memiliki harapan...

Hidup selalu merupakan pergaulan, & setiap pergaulan pasti terjadi gesekan...

Ingin bergaul tidak ingin bergesekan, adalah kerdil.
Tapi lebih kerdil lagi yang tidak ingin bergaul karena tidak ingin terjadi gesekan..


 Hidup selalu merupakan perjuangan, & setiap perjuangan butuh pengorbanan...
Berjuang namun takut berkorban adalah banyolan. Tapi lebih banyol lagi jika tidak mau berjuang karena takut berkorban...

Hidup selalu merupakan pejuangan & setiap perjuangan butuh senjata....

Berjuang tanpa senjata adalah konyol.
Tapi lebih konyol lagi yg tidak mau berjuang karena merasa tidak punya senjata...


Hidup selalu merupakan perjalanan. & setiap perjalanan pasti butuh perbekalan...
Menempuh perjalanan tanpa bekal adalah kebodohan.
Tapi lebih bodoh lagi orang yg tidak mau berjalan karena merasa tidak punya bekal...

Hidup selalu merupakan pilihan. & setiap pilihan pasti mengandung resiko....

Berani memilih namun tidak berani menanggung resiko adalah keburukan.
Tapi lebih buruk lagi jika tidak berani memilih karena takut resiko...


Maka, bertarunglah, bercintalah, berharaplah, bergaulah, memilihlah, berjuanglah & beranilah.
Karena jika tidak, maka kita sesungguhnya telah "mati".

Kamis, 04 April 2013

Kisah Semut dan Lalat


Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Seekor lalat nampak bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.
 
“Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
 
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
 
Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
 
Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, 
 
“Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia betul-betul telah berjuang keras untuk keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”
 
Semut kecil itu nampak masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”
 
Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, 
 “Lalat itu tak kenal menyerah dan telah mencoba berkali- kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.”
 
Semut tua itu melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, 
“Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”
 
Para pemenang tidak melakukan hal yang berbeda, mereka melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda.