"Ibarat harapan seorang penggali sumur, jika galiannya belum mengeluarkan air, maka dia akan terus berusaha memperdalam galian sampai akhirnya mengeluarkan air. Begitupun kita dalam beribadah dan berdo`a. Jika kita belum merasakan nikmat atau manisnya beribadah dan doa belum dikabulkan, teruslah berusaha jangan pernah berputus asa, mungkin masih terhalang oleh dosa-dosa yang kita perbuat. Berkaitan dengan putus asa, Alloh berfirman : "..Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf : 87) Untuk itu, optimislah dalam berdoa dan beribadah, jauhilah rasa putus asa. Semoga Alloh SWT menjadikan kita hambanya yang kuat. Amin Wassalamualaikum !
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Album Anggota Keluarga

Hidup Ini Pilihan

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Februari 2014

BLIND SPOT


 Keluarga Eyang Tati

Titik Buta ( BLIND SPOT )

Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Mohammad Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia akan menang melawan pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk melihat hal-hal yang ... "TIDAK DAPAT D̲IA LIHAT SENDIRI"

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan "BLIND SPOT" atau "TITIK BUTA".

Kita hanya bisa melihat "BLIND SPOT" tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser.

↣ Kita butuh orang lain
↷ Yang menasihati,
↷ Yang mengingatkan,
↷ Bahkan yang menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru,

Yang bahkan kita tidak pernah menyadari.

KERENDAHAN HATI kita

↷ Untuk menerima kritikan,
↷ Untuk menerima nasihat,
↷ Dan untuk menerima teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna.

Biarkan orang lain menjadi "mata" kita di area 'Blind Spot' kita sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dengan pandangan diri kita sendiri..

Mudah2an Bermanfaat, اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ mendapat keberkahan ditiap perjuangan kita...

Regards 

Rabu, 10 Juli 2013

Berhenti menjadi tawanan pikiran negatif

 
 Keluarga Eyang Soenardi ( Ishak )

Di British Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk menampung para narapidana selama ratusan tahun. Setelah para napi dipindahkan ke tempat tinggal mereka yang baru, mereka menjadi bagian dari pasukan pekerja untuk mencopoti kayu, alat-alat listrik, dan pipa yang masih dapat digunakan dari penjara lama. Di bawah pengawasan para penjaga, napi-napi itu mulai melucuti dinding-dinding penjara lama.

Saat mereka melakukannya, mereka terperanjat oleh apa yang mereka temukan. Walaupun gembok-gembok besar mengunci pintu-pintu logam, dan batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel-sel, dinding-dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat, dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras, mereka dengan mudah dapat membuat lubang di situ, dan melarikan diri. Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel dalam sel-sel terkunci mereka, menganggap bahwa melarikan diri adalah  sesuatu yang mustahil.

Tak seorang pun pernah MENCOBA melarikan diri, karena mereka BERPIKIR itu mustahil.

Dear friend . . .
Saat ini pun banyak orang yang terpenjara dan berpikir mereka tidak mampu lagi untuk keluar dari penjara tersebut. Ya… mereka terpenjara oleh pikiran negative yang ada dalam dirinya. Mereka memiliki impian besar, namun mereka terpenjara oleh rasa takut. Mereka tak pernah berusaha mengejar impian – impian tersebut karena berpikir hal tersebut merupakan sesuatu yang mustahil. Mereka enggan mengejar impiannya karena menganggap mereka memiliki keterbatasan dalam dirinya.

Memiliki impian besar adalah sesuatu yang mulia. Jangan pernah mengubur semua impian anda hanya karena keterbatasan yang ada pada diri anda. Banyak sekali orang-orang yang sukses memiliki keterbatasan dalam hidupnya. 


Banyak para konglomerat yang ada pada saat ini terlahir dari keluarga yang miskin, banyak pengusaha dan pebisnis besar yang memulai usahanya dengan modal dengkul alias nol, banyak tokoh-tokoh besar di dunia yang memiliki kekurangan fisik, banyak pula orang-orang besar yang tidak mengenyam pendidikan formal. Namun mereka telah membuktikan bahwa kekutan impian dan cita-citalah yang membuat mereka termotivasi untuk gigih memperjuangkan kehidupannya.

Bagaimana dengan kita?
Ingin menjadi orang2 yang terpenjara oleh rasa takut dan pikiran negatif...
Atau berusaha mendaobrak keterbatasan dan kemudian mampu mengukir sejarah kita.


Semua hal-hal yang besar berawal dari keberanian untuk memulai  (Sally Berger)

Kebahagian Itu Menular

 
 Saat pengajian Keluarga Besar di Cilangkap

"For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness."
-- Ralph Waldo Emerson

Angka sudah menunjukkan pukul enam lewat lima menit. Sebuah taksi berhenti di depan rumah di satu kompleks perumahan. Tak sampai tiga menit, seorang pria paruh baya bergegas masuk ke dalam taksi tersebut. Dalam perjalanan menuju kantornya yang terletak di daerah Kuningan, sesekali laki-laki tersebut berdendang riang, sambil membaca beberapa berkas yang dibawanya. Sang sopir menyapanya dengan ramah, "Pagi ini cerah sekali ya Pak, semoga hari ini tidak hujan." 
Ditanya begitu, pria muda itu tersenyum kecil, "Betul, hari sungguh indah sekali. Semoga semuanya berjalan lancar hari ini."

Dalam perjalanan, terdengar obrolan santai antara sang sopir dengan pria muda itu. Setelah merambah jalanan ibukota selama hampir empat puluh lima menit, kendaraan transportasi plat kuning tersebut sampai juga di tempat tujuan. Pria muda itu mengambil uang dari dompetnya. Diberikannya selembar pecahan lima puluh ribuan. Argo di taksi menunjukkan angka tiga puluh empat ribu lebih.
"Ini kembaliannya Pak," kata si sopir taksi.
"Ambil saja untuk bapak kembaliannya," kata pria muda tersebut sambil tersenyum.
"Wah, terimakasih banyak Pak!" terlihat senyum penuh sumringah diwajah sang sang sopir taksi.

Pagi itu, sang sopir taksi belum sarapan. Ia segera menuju kedai makanan yang tak jauh dari gedung yang baru saja disinggahinya. Sudah seringkali ia mengantarkan penumpang ke gedung itu, jadi ia sudah hafal dimana letak kedai-kedai makanan. Sang sopir makan dengan begitu lahapnya. Setelah selesai, ia pun membayar harga makanan yang disantapnya.
"Berapa semuanya Mbok?" tanyanya.
"Biasa mas, tujuh ribu," jawab si Mbok.
"Nih Mbok, sisanya untuk si Tole anak Mbok ya," si sopir memberikan selembar uang sepuluh ribu.
"Matur nuwun," kata si Mbok dengan senang.

Tole, anak si Mbok, masuk sekolah siang hari. Dari sedikit kelebihan uang yang diperoleh dari sopir taksi pagi hari tadi, si Mbok membekali Tole bekal makan lebih dari biasanya. Si Tole dibekali dua roti isi coklat. Biasanya si Mbok hanya memberinya satu buah roti. Si Tole girang bukan kepalang. Ketika jam istirahat sekolah berbunyi, Si Tole siap membuka bekal yang dibawakan oleh ibunya. Saat hendak menyantapnya, dilihatnya teman sebangkunya hanya memperhatikannya saja. Tanpa pikir panjang, diberikannya satu roti kepada temannya. Merekapun tertawa riang sambil makan bersama.

Cerita mungkin masih terus berlanjut. Pria muda merasa bahagia. Sang sopir begitu pula. Si Mbok pun ikut bahagia. Si Tole juga dapat berbagi bekal dengan temannya. Ternyata, kebahagiaan dapat menular kepada siapa saja, menular dan menyebar melalui kelompok-kelompok sosial dimana kita hidup.

Banyak penelitian membuktikan demikian. Satu contoh, antara tahun 1971 hingga 2003, dalam penelitian yang disebut Framingham Heart Study, didapatkan bahwa sekitar 5000 orang dewasa yang diteliti, ternyata dapat menularkan kebahagiaan yang dialaminya ke orang-orang sekelilingnya meski jaraknya cukup jauh, sekurangnya setengah mil. Bahkan Prof. Andrew Steptoe, seorang psikolog dari Universitas College London mengatakan, "Yang lebih mengejutkan lagi adalah penularan ini tak hanya terjadi pada mereka yang memiliki hubungan dekat, melainkan juga mereka yang justru ingin terpisah dari kelompok."

Kebahagiaan merupakan suatu pilihan hidup. Dan jelas, pasti menular. 
Nah, bagaimana, Anda dapat menularkan kebahagiaan yang Anda miliki sekarang juga?
 

Kamis, 04 Juli 2013

Segelas Fanta


 Kumpul bocah  di pertemuan keluarga Ciapus
  
Konon suatu hari, Om William Soeryajaya yang saat itu usahanya belumlah seraksasa Astra Group  saat ini, datang ke kantor pada pagi hari dan segera disambut oleh seorang Office Boy yang meletakkan segelas minuman di meja kerja Om William. 

"Selamat pagi Tuan" demikian sapa sang Office Boy dengan sopan yang disambut dengan anggukan dan sambil meletakkan koran di meja, 

Om William pun balas menyapa "Kamu masih baru ya? sudah berapa lama kamu kerja disini?" 
 "Kira-kira satu bulan Tuan" jawabnya

OW: "Bagaimana? Kamu suka kerja disini?"
OB: "Ya Tuan, saya suka bekerja disini"
OW: "Baiklah kalau begitu"
OB: "Maaf Tuan, apakah saya boleh menyampaikan sesuatu?"
OW: "Apa itu?"
OB: "Saya mau minta dibelikan selusin gelas untuk para tamu di kantor ini Tuan"


Di zaman itu Coca Cola, Fanta & Sprite adalah trend yang dipandang praktis sebagai minuman yang disuguhkan kepada tetamu yang datang ke kantor Om William di kantor Pusat Astra Jl. Juanda.
 
OB: "Tuan, seringkali sebotol minuman yang kita suguhkan tidak dihabiskan, kalau saya menggunakan gelas yang saya isi es batu maka sebotol bisa untuk dua orang"
Dahi Om William pun sempat berkerut namun kemudian mengangguk tanda setuju dan memberikan sejumlah uang kepada si Office Boy itu untuk membeli gelas.

Sebulan berlalu dan dalam sebuah kesempatan si Office Boy menyapa Om William kembali untuk menyampaikan isi hatinya.

OW: "Ya, ada apa?"
OB: "Maaf Tuan, apakah saya boleh minta uang untuk beli gelas lagi?"
OW: "Memangnya kenapa dengan gelas yang dulu kamu beli?"
OB: "Gelas itu terlalu besar Tuan, dan sebagian tamu yang datang tidak menghabiskan minumannya, saya ingin membeli gelas yang lebih kecil"


Om William pun setuju dan kembali memberikan sejumlah uang untuk membeli gelas kecil, dan si Office Boy itu pergi membeli selusin gelas kecil yang saat itu lazim disebut gelas belimbing"

Sekian waktu berlalu, dan kali ini si Office Boy mengetuk pintu ruang kerja Om William, "Ya, masuklah"
Si Office Boy pun masuk dan belum sempat berkata-kata, Om William langsung berkata "kali ini kamu jangan lagi minta uang untuk beli gelas ukuran 'sloki' ya!"

Si Office Boy nampak gelisah dan berusaha menjelaskan "Maaf Tuan, saya tidak bermaksud minta uang untuk beli gelas lagi, saya hanya ingin minta ijin agar diperbolehkan menanyakan kepada para tamu itu, apa jenis minuman yang sebenarnya mereka suka"

Om William yang penasaran masih belum berkata-kata dan si Office Boy melanjutkan perkataanya "Karena ada beberapa gelas yang tidak diminum sama sekali dan mungkin itu karena mereka tidak suka, itulah sebabnya saya perlu menanyakannya".
 
Om William pun tertegun sejenak sambil mengangguk-angguk tanda setuju.

"Pastikan apapun perbuatan dan hasil hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya"

Allah berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18 yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Nabi saw pernah mengatakan bahwa "Siapa yang hari ini sama seperti hari kemarin maka dia orang merugi. Siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung. Maka siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia orang yang terlaknat".

Kamis, 30 Mei 2013

Kisah seutas benang

 
Lidya , Dinda & Mama  antri  karcis  di  Universal Studio - Singapore

Awalnya, ia hanya seutas benang. Faktanya, bahkan ia jauh beribu-ribu lebih
halus dari benang yang kita tahu. Tipis, kecil, tak terlihat dan terabaikan.

Anehnya, setiap kita melakukan sesuatu yang sama, ia menebal. Melakukan
sekali lagi, iapun kembali menebal sekali lagi. Pengulangan menebalkan
sekaligus menguatkan benang yang tadinya hanya seutas itu.

Sehari, seminggu, sebulan, setahun..benang itupun semakin kuat. Setelah
kuat, benang itu segera menunjukkan kekuasaannya. Mereka (karena tidak lagi
sehelai) mengontrol kehidupan seseorang, tanpa disadari. Menguasai cara
berkata-kata, bertindak, bahkan setiap reaksi terhadap sesuatu.

Kekuasaan merekapun beragam, ada yang positif dan memuliakan, namun ada
pula yang negatif, mengungkung, memperbudak, menjerumuskan. Semuanya tergantung "penguatan" yang dilakukan tuannya. Di titik inilah
mereka bisa jadi "senjata pamungkas" atau "senjata makan tuan". Sekali
lagi, semua ditentukan oleh kita, tuannya.

Benang itu adalah : neuro (syaraf) kita. 

Jalinannya yang kuat membentuk "kebiasaan" kita. Akhirnya bermuara pada "karakter". 
Kita adalah Sang Tuan, yang lewat pengulangan sikap, cara berpikir, reaksi dan sensasi, menyebabkan mereka 'berkembak-biak'. Menebal, menguat kemudian menguasai.

Menjadi demikian "otomatis" namun jika disadari, proses menenunnya ternyata jauh dari otomatis.

Satu kata, satu tatapan, satu senyum ramah, satu kepedulian, satu
kebaikan, satu ketulusan, satu amarah, satu dusta, satu kelicikan...
SELALU berupa penguatan!

“The beginning of a habit is like an invisible thread, but every time we
repeat the act we strengthen the strand, add to it another filament, until
it becomes a great cable and binds us irrevocably, thought and act” (Orison
Swett Marden)

Jumat, 08 Maret 2013

Pengajian Kel. Besar di Cilangkap


Agenda pertemuan Kel. Besar  di tahun 2013  ini  berlangsung  pada  tanggal 3 Maret 2013  dengaqn  mengadakan  Pengajian  di  rumah  Eyang  Bunyamin ( Bubun  )  di daerah  Cilangkap  - Jakarta Timur  

Pengajian  yang dalam bahasa Arab disebut At-ta’llimu asal kata ta’allama yata’allamu ta’liiman yang artinya belajar, pengertian dari makna pengajian atau ta’liim mempunyai nilai ibadah tersendiri  dengan hadir dalam belajar ilmu agama ini  bersama orang Aalim atau orang yang berilmu merupakan bentuk ibadah yang wajib setiap muslim.

Kita  harapkan di dalam pengajian  yang terdapat manfaat yang begitu besar positifnya,  dapat diambil semua  ilmu yang  bermanfaat  untuk menambah  merubah diri atau memperbaiki diri dari perbuatan yang keji dan mungkar.

Berikut  photo - photo  liputannya :

Eyang Nurdin " tampil "  berpose  duluan


Uztad  yang membawakan ceramah







 
   Eyang Nasir  (  Acing )  ngariung  makan  sayur  asem



Tiga  serangkai . . .mana  yang  lain













 Aa Bin  didepan  rumah . . . .daramang  A  ?   Kumaha  bulan  madu   he he 
lihat  artikel  dengan  klik : 
http://idriskayumanis.blogspot.com/2010/11/silaturahmi-chating-imaginer-dengan-aa.html

Kalau  ngga salah  lokasi  ini  dulu  adalah  kebun rambutan



Ninuq  dan  keluarga


Sekalian  dengan  acara  ultah  beberapa bocah
 

Alhamdulillah, seluruh acara & kegiatan pengajian Kel. Besar H. Idris   selesai dilaksanakan dengan sukses , mudah-mudahan majlis Kel. Besar  menjadi jalan bagi seluruh anggota  keluarga  untuk menjadi orang-orang yang ikhlas, sabar dan tawadhu serta menjadi jalan bagi kita untuk menjadi ahli surga,agar acara tersebut mendapat ridlo dari Allah SWT,

Sabtu, 02 Maret 2013

Kisah Tentang Kaya dan Miskin

 

Suatu ketika seorang ayah dari keluarga kaya raya, bermaksud memberi pelajaran bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya. Merekapun menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yang miskin di sebuah dusun di tepi hutan.

Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anaknya. “Bagaimana perjalanan kita?” Jawab sang Anak, “Oh sangat menarik ayah.”
“Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup?” Sang ayah bertanya.
“Ya ayah”, sahut sang anak.
“Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini?” Tanya sang ayah.

Sang anak menjawab, “Yang saya pelajari kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, mereka punya empat anjing untuk berburu. Kita punya kolam renang kecil di taman, mereka punya sungai yang tiada batas… Kita punya lampu untuk menerangi taman kita, mereka punya bintang yang bersinar di malam hari. Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup, mereka hidup bersama alam. Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi mereka hidup untuk melayani oran lain. Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita, mereka punya banyak teman yang saling melindungi”.

Sang ayah tercengang diam mendengar jawaban anaknya. Lalu sang anak melanjutkan,
“Terima kasih ayah, karena ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita”.

Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan?
  
Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki, dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki. Bersyukurlah walau sekecil apapun rezeki yang kita peroleh…


Senin, 02 April 2012

Dokter SERIBU RUPIAH



Brunch @Arizona

Konsekwensi  dari  negara  kapitalis / negara  maju  adalah  komoditi  yang  serba  mahal  di  Amerika  Serikat ,  makanan  adalah salah  satu  contohnya  ,  disela - sela  kegiatan  wisata  saat menjelang   atau  after  Lunch  perut  ini  selalu  keroncongan  ,  maklum   suhu  yang  sekitar  3 - 5 derajat  Celsius  membuatnya  cepat  lapar.

Biasanya  saya  selalu  menyelinap  keluar dari  rombongan  sekedar  untuk  Brunch  (  ngemil  antara  Brakfast  &  Lunch ) , sebagai  contoh  untuk sepotong hotdog  atau  sanwich  harganya  sekitar  $ 6   atau  setara  Rp.  50.000  rupiah  ,   sementara  di  Indonesia  kita  bisa  dapat  untuk 10  orang.
Itu  untuk  harga  makanan ,  bagaimana  dengan  harga  produk / layanan  lainnya . . . . wah ngga  kehitung deh.

Lantas . . .apakah  uang seharga 1 cent  dollar atau  Rp.1000,-  ada  harganya  ?   
Tentu  ada  ,  namun  bukan  di  Amerika  Serikat  ,  tetapi di Republik  Indonesia , tepatnya di  Tanah  Papua.

Bahkan  uang  seribu  rupiah  ini  bukan  untuk  membeli  makanan  ,  tetapi  untuk  membayar  perawatan  dokter.
 

 dr. Soedanto

 Klinik dokter  Soedanto terletak di Jayapura. Sudah 33 tahun ia mengabdi di sana. Masyarakat mengenalnya sebagai "Dokter Seribu Rupiah" sebab ia hanya mengenakan biaya Rp1.000, 00 bagi tiap pasien yang berobat. 

Soedanto bahkan rela tidak dibayar jika pasien benar-benar tak mampu. Semua ini ia lakukan untuk menolong orang miskin. Apakah dokter lima anak ini bisa hidup nyaman dengan penghasilan sekecil itu? 

Untuk hidup mewah memang tidak bisa. Ia hidup bersahaja. Kendaraannya hanya sebuah mobil tua. Namun, kepada seorang wartawan ia berkata, "Semuanya cukup bagi kami."

Jika Anda percaya bahwa masa depan Anda bergantung pada jumlah harta simpanan, Anda bisa menjadi seorang penimbun yang serakah. 

Ingatlah bahwa faktor penyertaan Tuhan adalah penentu masa depan. Yakinilah itu, Anda akan menjadi seorang benar yang pemurah --

KEPUASAN HIDUP TERCAPAI BUKAN KARENA KITA MEMILIKI BANYAK 
MELAINKAN KARENA KITA BISA MEMBERI BANYAK

Senin, 26 Maret 2012

Penjara Dunia Muslim

 Penjara Alcatraz

Pulau Alcatraz adalah sebuah pulau yang terletak di tengah Teluk San Francisco di California, Amerika Serikat. Alcatraz terletak pada koordinat 37°49' LU 122°25' BB. Alcatraz dahulu merupakan benteng pertahanan militer dan kemudian dijadikan penjara keamanan yang  paling ketat dan kejam di Amerika Serikat.

Saking  ketatnya  bahkan  mafioso tersohor Al Capone  tidak  berkutik  dibuatnya  ,  sehingga  dia  menitipkan  semua  umurnya  sampai  meninggal  di penjara  tersebut.

Saat meneropong  penjara tersebut dari jembatan Golden Gate - San Francisco ,  saya  teringat cerita inspiratif guru agama saya di Muhammadiyah-Jakarta  tentang  penjara yang  paling  membelenggu  yaitu  DUNIA  ,  ini  cerita  dari  beliau  :

Pada suatu hari, hakim besar Mesir Ibnu Hajar namanya, melewati seorang Yahudi penjual minyak yang pakainnya kotor. hakim besar tersebut menaiki kereta yang ditarik oleh kuda-kuda dalam sebuah arak-arakan. 
Melihat hal tersebut, Yahudi itu berkata pada Ibnu Hajar "Sesungguhnya nabi kalian berkata: 'Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir' [HR. Muslim]. Namun kenapa engkau sebagai muslim menjadi seorang hakim besar di mesir, dalam arak-arakan yang mewah dan dalam kenikmatan seperti ini, sedangkan aku yang kafir dalam penderitaan yang seperti ini?"

Ibnu Hajar menjawab dengan tenangnya "aku dengan kemewahanku dan kenikmatanku ini bagaikan neraka jika dibandingkan dengan kenikmatan surga di akhirat, sedangkan engkau dengan penderitaan dan kesengsaraanmu itu bagaikan surga jika dibanding dengan penderitaan dan kesengsaraan di neraka"

Yahudi tersebut kemudian langsung mengucapkan 2 kalimat syahadat mengakui bahwa Allah adalah tuhannya dan Muhammad sebagai utusan Allah tanpa berpikir lebih jauh lagi.
- - - - - - - | | | - - - - - - -
 
Sesungguhnya nabi kalian berkata: 'Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir'
[HR. Muslim]


Rabu, 22 Februari 2012

Jangan Mengeluh


 Didit  & Keluarga
  
 Alkisah, ada seorang bangsawan kaya raya yang tinggal di sebuah daerah padang rumputyang luas. Suatu hari, karena ternak yang dipunyainya semakin banyak, sang bangsawan memilih 2 orang anak muda dari keluarga yang miskin untuk dipekerjakan. 
Yang berbadan tinggi dan tegap dipekerjakan sebagai pengurus kuda. Sedangkan yang berbadan kurus dan lebih kecil dipekerjakan sebagai pengurus ternak kambingnya.
Setelah beberapa saat, si badan tegap dengan arogan berkata kepada si badan kecil: 
"Hai sobat. Aku lebih besar badannya dari badanmu. Aku juga lebih tua darimu. Mulai besok, kita bertukar tempat. Aku memilih untuk mengurus kambing. Dan kamu menggantikan aku mengurus kuda. Awas kalau tidak mau! Dan awas ya, jangan laporkan masalah ini ke tuan kita! Kalau kamu berani lapor atau menolak, tahu sendiri akibatnya! Aku habisi badan kecilmu itu!"

Sore hari, dengan muka murung dan langkah gontai dia pulang ke rumah. Sesampai di rumah, melihat muka murung dan kegalauan anaknya, si ibu bertanya: "Nak, ada apa? Ada masalah apa? Coba ceritakan ke ibu".

Dengan kasih sayang dan kelembutan, mereka berbincang saat makan malam.

Si anak pun menceritakan peristiwa yang tadi terjadi. Dengan bersungut-sungut si anak melanjutkan: "Sungguh tidak adil kan, Bu. Dia mengancam dan memaksa aku untuk mengurus kuda-kuda liar. Dia yang berbadan besar memilih mengurus kambing. Badanku kecil begini, bagaimana aku bisa mengejar-ngejar kuda yang begitu besar. Aduuuh Bu...sungguh jelek nasibku."
Sambil menunduk lesu dia menghabiskan santap malamnya.

Si ibu dengan senyum bijak berkata, "Nak. Semua masalah pasti ada hikmahnya. Syukuri, hadapi, dan terima dengan besar hati. Tidak usah memusuhi dan membenci temanmu itu. Ibu percaya, semua kesulitan yang akan kamu hadapi, jika kamu mampu belajar dan kerja keras, pasti akan membuatmu menjadi kuat dan bermanfaat untuk masa depanmu."

Sejak saat itu, si anak kurus itu dengan susah payah setiap hari bergelut dengan pekerjaan mengurus kuda-kuda yang bertubuh tegap, besar, dan masih liar. Dia harus jatuh bangun mengejar mereka, kadang terkena tendangan, bahkan pernah terinjak hingga terluka parah. Dari hari ke hari keahlian dan kemampuannya menguasai kuda-kuda pun semakin membaik. Tidak terasa, tubuhnya pun berkembang menjadi tinggi, tegap dan perkasa.

Hingga suatu hari, terjadi pecah perang antar negara. Kerajaan membutuhkan prajurit pasukan berkuda. Dan si pemuda pun terpilih sebagai pemimpin pasukan berkuda karena kepiawaiannya mengendalikan kuda-kuda.

Di kemudian hari, si pemuda berhasil memimpin dan memenangkan perang yang dipercayakan kepadanya dan dikenal banyak orang karena kebesaran namanya. Dia adalah pemimpin bangsa Mongol yang tersohor, bernama: Genghis Khan

  Pembaca yang berbahagia,

Dalam putaran kehidupan sering kali kita dihadapkan pada keadaan yang sepertinya membuat kita dirugikan, menderita, dan kita pun tidak berdaya kecuali harus menerimanya. Kalau kita larut dalam kekecewaan, marah, emosi, pasti kita sendiri yang akan bertambah menderita.

Lebih baik kita anggap ketidaknyamanan sebagai latihan mental dan kesabaran. Mari berjiwa besar dengan tetap melakukan aktivitas yang positif, sehingga sampai suatu nanti pasti perubahan lebih baik, lebih luar biasa akan kita nikmati!

Salam sukses, Buat semua keluarga besar

Kamis, 20 Oktober 2011

Sepuluh Ribu Rupiah

Menjelang shalat Isya, seorang wartawan duduk kelelahan di halaman sebuah masjid. Perutnya bertalu-talu karena keroncongan. Kepalanya clingak-clinguk mencari tukang jual makanan, tapi tak kunjung menemukannya. Dari wajahnya, tampak gurat-gurat kekecewaan.

Usut punya usut, si Wartawan ini tengah kecewa berat karena gagal bertemu dengan seorang tokoh yang hendak diwawancarai. Betapa tidak kecewa, sejak siang hari dia sudah "mengejar-ngejar" tokoh tersebut. Siang hari, mereka janji bertemu di sebuah kantor.

Beberapa saat sebelum waktu pertemuan itu berlangsung, tokoh penting ini mendadak membatalkan janji, ada acara mendadak katanya. Militansinya sebagai seorang wartawan untuk mendapatkan berita telah membuat pria muda ini mendatangi hotel tempat si Pejabat meeting. Dua jam lamanya, dia menunggu. Namun sial, si Pejabat itu keluar dari pintu samping hotel sehingga tidak sempat bertemu sang Wartawan.

Tidak mau patah arang, dia segera mencari tahu di mana keberadaan pejabat itu. Dia pun mendapatkan informasi bahwa orang yang dicarinya itu sudah pulang ke rumahnya di sebuah kompleks perumahan elite. Tanpa banyak berpikir, sang Wartawan tancap gas. Dengan motornya yang sudah agak butut, dia mendatangi perumahan tersebut. Walau harus tanya sana-tanya sini, akhirnya dia bisa sampai ke rumah si Pejabat.

"Aduh maaf, Mas, Bapaknya barusan pergi lagi. Ada pertemuan lagi katanya. Tapi, Bapak nggak bilang di mananya," kata si penghuni rumah.

Lunglailah kaki si Wartawan. Dia pun pergi. Berkali-kali dia coba mengontak si pejabat, tetapi berkali-kali pula ponselnya tidak diangkat. Sudah terbayang di benaknya kalau nanti malam dia akan ditegur atasannya karena tidak mampu mendapatkan berita. Perutnya yang keroncongan seakan menambah derita.

Saat duduk di masjid itulah, dia melihat seorang kakek yang baru saja menunaikan shalat maghrib. Dipandanginya kakek itu. Tampangnya sangat tidak meyakinkan: tinggi, kurus, jambang putihnya tidak terurus, pakaiannya sangat sederhana dan sudah luntur warnanya, sandal jepitnya pun sudah butut.

Kakek itu menghampiri sebuah tanggungan kayu bakar. Lalu, mengambil topi dan duduk melepas lelah takjauh dari tempat si Wartawan. Kerutan wajahnya yang hitam terbakar matahari seakan tampak makin mengerut karena kelelahan.

"Cep, peryogi suluh henteu? Peserlah suluh anu Bapa, ieu ti enjing-enjing teu acan pajeng!" kata Pak Tua kepada si Wartawan. Maksudnya, dia menawarkan kayu bakar yang dibawanya karena sejak dari pagi tidak laku-laku.

"Punten Bapa, abdi di Bumi teu nganggo suluh (Maaf Bapak, saya di rumah tidak menggunakan kayu bakar)," jawabnya.

"Oh muhun, teu sawios. Mangga atuh, Bapa tipayun, (Oh iya, nggak apa-apa. Kalau begitu permisi, Bapak duluan)," ujar Pak Tua penjual kayu bakar itu.

Sebelum Pak Tua itu pergi, si Wartawan segera mengambil dompet. Dilihatnya hanya ada uang sepuluh ribu, satu-satunya, plus beberapa keping uang receh. Itulah hartanya yang tersisa pada hari itu untuk makan dan membeli bensin. Namun, semua itu dia abaikan. Dia berikan uang sepuluh ribu itu kepada Pak Tua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya dia menerimanya pula.

Sambil menahan tangis haru, Pak Tua berkata, "Hatur nuhun Kasep, tos nulungan Bapak. Mugi-mugi Gusti Alloh ngagentosan kunu langkung ageung (Terima kasih, Cakep, sudah menolong Bapak, semoga Gusti Allah menggantinya dengan yang lebih besar)." Ternyata, Bapak ini sejak pagi belum makan dan tidak punya uang untuk pulang.

Selembar sepuluh ribu telah mengubah segalanya. Dia te-lah sudi memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya yang tengah kesusahan, Allah Swt. pun langsung membalasnya dengan memasukkan rasa bahagia yang berlipat-lipat ke dalam hatinya.

Rasa lapar, penat, dan hati dongkol yang sebelumnya mendominasi dirinya langsung hilang sirna berganti kelapangan dan kebahagiaan. Uang sepuluh ribu itu benar-benar memberikan kepuasan yang sensasinya sulit terlupakan. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain dari tetesan air mata bahagia. "Terima kasih, ya Allah, engkau telah memberiku rezeki sehingga bisa berbagi," gumamnya.

Tak lama kemudian, datanglah karunia yang kedua. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dilihatnya sebuah pesan dari atasannya kalau dia tidak perlu lagi mengejar si Pejabat karena ada narasumber lain yang lebih kompeten yang siap diwawancara seorang rekannya. Dia hanya memberi penugasan untuk meliput sebuah acara syukuran di salah satu hotel berbintang.

Karunia Allah yang ketiga pun segera datang. Di sela-sela acara liputan di hotel itu, sang Wartawan dipersilakan oleh panitia untuk menikmati hidangan mewah yang tersedia sepuasnya. Menjelang pulang, dia mendapatkan sebuah doorprize dan beberapa buah bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak penyelenggara. "Malam yang indah ...," ujarnya.

Walau balasan untuk kebaikan dan kejahatan itu dijanjikan Tuhan pada hari kebangkitan, tetap saja muncul suatu keadaan yang mewakili balasan itu. Apabila manusia bergembira di dalam hatinya, itu adalah balasan karena telah membuat orang lain bahagia.

Apabila sedih, itulah balasan karena telah membuat orang lain sedih.


Terdapat suatu bentuk balasan sebagai pemisah hari kebangkitan. (Jalaluddin Rumi)


Senin, 06 Juni 2011

Makna Keluarga Sakinah

Lidya Laila Tamara - Pantai Cermin Theme Park
( klik pada photo untuk memperbesar )

Makna keluarga sakinah adalah keluarga yang bahagia. Keluarga sakinah satu ungkapan untuk menyebut sebuah keluarga yang fungsional dalam mengantar orang pada cita-cita dan tujuan  membangun keluarga. Dalam bahasa Arab disebut dengan usrah sa`idah, keluarga bahagia. Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al Quran surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Allah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.  

Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan.  Pengertian ini pula  yang dipakai dalam ayat-ayat al Quran dan hadis  dalam kontek kehidupan manusia. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga, dan yang ideal biasanya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak terjadi mendadak, tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan terlebih dahulu. 

Ada 4  ( empat  ) hal memahami makna keluarga sakinah diantaranya adalah.

Pertama
, bahwa nikah atau hidup berumah tangga itu merupakan sunnah Rasul bagi yang sudah mampu. Dalam kehidupan berumah tangga terkandung banyak sekali keutamaan yang bernilai ibadah, menyangkut aktualisasi diri sebagai suami/isteri, sebagai ayah/ibu dan sebagainya. 

Bagi yang belum mampu disuruh bersabar dan berpuasa, tetapi jika dorongan nikah sudah ti
dak terkendali padahal ekonomi belum siap, sementara ia takut terjerumus pada perzinaan, maka agama menyuruh agar ia menikah saja, Insya Allah rizki akan datang kepada orang yang memiliki semangat menghindari dosa, entah dari mana datangnya (min haitsu la yahtasib). Nabi bersabda:

'Wahai pemuda, barang siapa diantara kalian sudah mampu untuk menikah nikahlah, karena nikah itu dapat mengendalikan mata (yang jalang) dan memelihara kesucian kehormatan (dari berzina), dan barang siapa yang belum siap, hendaknya ia berpuasa, karena puasa bisa menjadi obat (dari dorongan nafsu). (H.R. Bukhari Muslim)


Kedua
, Bahwa tingkatan ekonomi keluarga itu berhubungan dengan kesungguhan berusaha, kemampuan mengelola (manajemen) dan berkah dari Allah. Ada keluarga yang ekonominya pas-pasan tetapi hidupnya bahagia dan anak-anaknya bisa sekolah sampai  ke jenjang tinggi, sementara ada keluarga yang serba berkecukupan materi tetapi suasananya gersang dan banyak urusan keluarga dan pendidikan anak terbengkalai. 

Berkah artinya terkumpulnya kebaikan ilahiyyah pada seseorang/keluarga/masyarakat seperti terkumpulnya air di dalam kolam. Secara sosiologis, berkah artinya terdayagunanya nikmat Allah secara optimal. Berkah dalam hidup tidak datang dengan sendirinya tetapi harus diupayakan. Firman Allah SWT :

'Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami akan sisksa mereka disebabkan  oleh perbuatan mereka./(Surat al A'raf, 96)


Ketiga
, Suami isteri itu bagaikan pakaian dan pemakainya. Antara keduanya harus ada  kesesuaian ukuran, keseuaian mode, asesoris dan pemeliharaan kebersihan. Layaknya pakaian, masing-masing  suami dan isteri harus bisa menjalankan fungsinya sebagai ;
(a) penutup aurat (sesuatu yang memalukan) dari pandangan orang lain, 
(b) pelindung dari panas dinginnya kehidupan, dan 
(c) kebanggan dan keindahan bagi pasangannya. 

Dalam keadaan tertentu pakaian mungkin bisa diperkecil, dilonggarkan, ditambah  asesoris dan sebagainya. Mengatasi perbedaan selera, kecenderungan dan hidup antara suami isteri, diperlukan pengorbanan kedua belah pihak. Masing-masing harus bertanya , Apa yang dapat saya berikan, bukan apa yang saya mau.

'Mereka (isteri-isterimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan kalian adalah (ibarat)  pakaian mereka. (Surat al Baqarah 187)
.

'Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Nabi) adalah orang yang paling baik terhadap isteri. (H.R. Turmuzi dari Aisyah).


Keempat
, Bahwa cinta dan kasih sayang (mawaddah dan rahmah) merupakan sendi dan perekat rumah tangga yang sangat penting. Cinta adalah sesuatu yang suci, anugerah Allah dan sering tidak rasional. Cinta dipenuhi nuansa memaklumi dan memaafkan. Kesabaran, kesetiaan, pengertian, pemberian dan pengorbanan akan mendatangkan/menyuburkan cinta, sementara penyelewengan, egoisme, kikir dan kekasaran akan menghilangkan rasa cinta. 

 Hukama berkata, 'Tanda-tanda cinta sejati ialah  :

(1) engkau lebih suka berbicara dengan dia (yang kau cintai) dibanding berbicara dengan orang lain, 
(2) engkau lebih suka duduk berduaan dengan dia dibanding dengan orang lain, dan 
(3) engkau lebih suka mengikuti kemauan   dia dibanding kemauan orang lain/diri sendiri).

'Tidak bisa memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia, dan tidak sanggup  menghinakan  wanita kecuali lelaki yang tercela.'

 
 M. Agus Syafii

Jumat, 29 April 2011

Never Give Up

 Anngi  , Tio  dan  Mama  Tuty  habis berenang
di Bekasi - Jabar


Ada seorang pria yang putus asa dan  mau meninggalkan semuanya. pekerjaan, hubungan kekeluargaan  & berhenti hidup

Lalu ia pergi ke hutan untuk berbicara yang teraakhir kalinya dengan seseorang, "Apakah anda bisa memberi aku 1 alasan yang baik untuk jangan berhenti menyerah?"

Jawaban orang itu sangat mengejutkan,

"Coba lihat sekitar kau, Apa kau melihat pohon pakis & bambu itu?"
"Ya aku lihat itu" jawabnya

"Ketika menanam benih pakis & bnih bmbu,
Aku merawat keduanya secara sangat baik.
Alam memberi kedua tumbuhan itu cahaya dan  air. Pakis tumbuh sangat cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apapun,

Aku sempat merasa berhasil akan pakis,
tetapi gagal dan kecewa akan tanaman bambu
Tetapi aku tidak mnyerah!!

Pada thn ke2, Pakis tmbuh mkin subur & byk, tapi blm ada jg yg mncul dr bnih bmbu. Tapi Aku tdk mnyerah!!

Ditahun ke-3, bambu belum juga memunculkan sesuatu, Tetapi Aku tidak menyerah!

Ditahun ke-4, Masih juga belum ada apapun dari benih bambu.
"Aku tidak menyerah!

Ditahun ke-5, muncul tunas kecil dibanding dengan pakis, tunas itu tampak kecil & tidak bermakna.
Tapi kemudian, . . . . bambu  MENJULANG sampai 100 kaki.

Untuk menumbuhkan akar bambu  itu perlu waktu 5 tahun. Akar yang membuat bambu kuat & memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup
5 tahan yang dibutuhkan bambu, untuk MENGUATKAN akar-akarnya, sehingga bisa menjulang luar biasa tinggi..

"Tahukah kau?
Disaat menghadapi semua tantangan, kesulitan & perjuangan berat, atau sesuatu urusan yang kau anggap berat ,  kau telah gagal?

ALAM sebenarnya sedang menguatkan akar-akarnya?"

Jangan pernah memBANDINGkan
-Dirimu dengan orang lain,
-Caramu dengan cara orang lain.
-Pakis mu dan bambu

Bambu mmpunyai tujuan yang berbeda dengan Pakis,
Tetapi ternyata bambu yang menjulang mangalahkan pakis yang kita banggakan

Dan, justru, KEDUAnya  membuat hutan menjadi indah

"Waktu berhasil untuk Anda akan datang masanya.
Waktu untuk bambu menjulang akan datang,
Anda akan menanjak/menjulang tnggi.
Anda bisa mmbuat bambu itu tumbuh lebat dan mnjulang

Seharusnya!!
JANGAN MENYERAH saat ini,Jangan mnyayangi pakismu melebihi bambu

Seharusnya anda bersabar dan tidak memperlakukan  2 Hal  yang berbeda dengan 1 cara yang sama
Jangan kecewa  atas sesuatu yang belum membuatmu  berhasil

Keep burning!!!

Senin, 18 April 2011

Sabar adalah Keputusan , bukan Sifat . . . . . ..

Mang / Uwak / Eyang  Nurdin   dam   Yakub

Tanya :
Saya ini sulit bersabar.
Saya pemarah berat.
Kayaknya tidak mungkin bisa bersabar. Bagaimana ini  Kang Djodi ?

Jawab  :
Begini, seandainya Anda sedang duduk di warung, tiba-tiba ada orang menumpahkan kopi panas ke pangkuan Anda, apakah Anda marah?

Tanya :
Ya.

Jawab :
Akan bersabar?

Tanya  :
Tidak!

Jawab :
Kalau dia datang dengan 18 rekannya yang berwajah sangar dan kekar serta membawa senjata tajam ?

Tanya :
Ya, saya terpaksa bersabar.

Jawab :
Jadi, kesimpulannya kesabaran itu bukan sifat, tapi keputusan.